Monday, March 28, 2011

8 Dosa Besar dalam Berinvestasi

Rasanya sudah lama saya tidak menulis mengenai dunia ekonomi, khususnya investasi. Secara sekarang ada mainan baru gitu. Tulisan ini dibuat untuk kepentingan pribadi, agar saya tidak ikut terjebak dalam kesalahan investasi serta berakibat pada kehilangan sejumlah portofolio berharga. Beberapa kesalahan umum yang banyak dilakukan para investor ritel antara lain:

             1. Overlooking Fundamentals
Dosa pertama dalam berinvestasi adalah tergesa-gesa membuat keputusan dalam menginvestasikan uang di dunia portofolio. Pada kebanyakan kasus, para investor hanya melihat perusahaan target dari segi fundamental yang belebihan. Maksudnya rasa optimistik yang berlebihan dan didasarkan pada presentasi hnya berdasarkan pada prediksi pertumbuhan yang berasal dari menejer perusahaan atau portofolio menejer. Solusinya setiap investor ritel yang akan masuk sebaiknya melihat secara lebih detil portofolio setiap perusahaan yang akan dikoleksi sahamnya dengan melihat prospek pertumbuhan di masa depan dan pasar yang terus tumbuh berkembang.
               2. Cheap, Yet Expensive
Investor ritel yang sukses adalah yang menyasar saham-saham yang ‘murah’, dalam artian harga yang ditawarkan masih dibawah performa riil perusahaan dan prediksi pertumbuhan. Kebanyakan invesor ritel pemula malakukan salah interpretasi dengan mengartikan hal ini sebagai strategi untuk membeli saham murah dengan mengabaikan persentasi pertumbuhan yang tinggi.
               3. Myopic Vision
Investor ritel sering kali hanya melihat gain pada jangka pendek dengan melihat berapa selisih harga beli dengan harga jual. Jika para investor ingin melakukan short selling, maka senjata yang harus dimiliki adalah kemampuan untuk melihat faktor bulish dan faktor bearish yang blended. Hal ini menjadi sulit dengan didukung oleh situasi ekonomi yang terlalu turbulen serta miskinnya sentimen geopolitik.
              4. Ignoring a Portfolio
Beberapa investor ritel seolah lupa pada aset investasi mereka dengan tidak melakukan review berkala terhadap kinerja emiten. Review ini berkaitan dengan keputusan yang harusnya dapat diambil investor ritel, apakah asetnya akan ditambah dengan malakukan buy atau melihat situasi dengan hold atau leave the market dengan melakukan selling. Jangan terlalu berharap bahwa nilai aset kita akan selalu meningkat, tanpa mengalami penurunan pada saat tertentu.
5.           5. Unwillingness to Book Losses
Sebuah fakta yang banyak terjadi pada investor skala ritel adalah semangat dalam mengumpulkan cuan yang kecil, tetapi tidak bisa menerima bila terjadi penurunan dengan selalu berharap terjadi riversal terhadap pergerakan yang disebabkan sentimen positif yang boosting. Ada baiknya apabila setiap investor ritel menetapkan batas bawah (book losses) semisal sebesar 10% dari penurunan. Keuntungan ditetapkannya
              6. Entry at Peaks, Exits at Lows
Pemikiran seperti ini lah yang banyak membuat investor ritel merugi dan kehilangan aset dalam jumlah yang huge. Mereka masuk pada saat harga saham atau curve sedang berada pada puncak peak-nya karena berharap setiap hari akan menembus level resistence baru terdorong sentimen positif. Hal ini diperparah ulah MI dan broker yang 'mengkompori' investor untuk terus melakukan pembelian padahal kondisi pasar pada saat itu sudah overprice dan overvolume. Kebalikannya adalah ketika kondisi pasar sedang bearish atau decline, memicu rush di pasar saham. Kondisi terlihat dengan banyaknya investor ritel yang keluar pasar karena termakan isyu yang menyesatkan. Padahal seharusnya pada saat decline adalah saat yang strategis untuk membeli saham karena harga yang sedang murah. Tentunya dengan memperhatikan pula proyeksi ke depan.
              7. Following Tips
Banyak orang jago saham atau lihai dalam memprediksi arah gerak saham, tapi berapa persen diantara mereka yang baik dalam memberikan tips kepada orang lain sebagus mereka memberikan tips kepada diri sendiri untuk mengejar profit. Jangan terpaku pada satu tips mengenai kondisi ini atau situasi itu atau prospek ini serta kemungkinan itu. Semua itu hanya perkiraan yang memiliki nilai deviasi sekian persen. Pesan saya adalah teliti kembali dengan cermat setiap tips dan trik yang didapat secara gratis melalui internet atau berbayar karena ur money is urs not broker’s mine.
              8. Allowing your Broker to Trade
Buntut dari kurangnya informasi terhadap pasar saham dan target yang ingin diachieve oleh setiap investor adalah terlalu berperannya broker dalam menentukan arah investasi seorang investor ritel. Mereka hanya meng-iyakan bila broker memberikan masukan dan menawarkan jual-beli tanpa memperhitungkan lagi apa untung-ruginya. Dari sisi broker, dengan melakukan banyak aksi jual beli tentunya akan semakin banyak menambah broker-fee yang didapat. Tetapi dari sisi investor ritel, sangat merugikan karena cuan yang didapat dalam jangka waktu singkat relatif lebih kecil dan riskan.

Sumber: Money Today, April 2011 (dengan perubahan)

Thursday, January 20, 2011

Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah (1)

ec.europa.eu
Secara umum, menurut buku Handbook of Procurement, model pengadaan di dunia terdiri dari 3 secara garis besar. Ketiga model ini kebanyakan yang saat ini dianut oleh banyak negara. Ketiga model tersebut yaitu:
1. Full centralization, pada model ini semua bentuk pengambilan keputusan berupa tender atau pengadaan barang/jasa dihandle oleh pusat. Kebijakan dan proses pengadaan semuanya dilakukan lleh lembaga pengadaan di tingkat pusat. Cara identifikasi simple nya sederhana, dengan mengajukan pertanyaan (what, when dan how). Bila keseluruhan pertanyaan itu mengarah kepada kewenangan lembaga pusat untuk memutuskan maka bisa dipastikan, model yang berlaku yaitu sentralisasi pengadaan.
2. Full decentralization, kebalikan dari model pertama. Bila daerah (local atau province) diberikan wewenang untuk memutuskan kebijakan dan proses pengadaan secara mandiri. Maka menganut model desentralisasi. Indikatornya ialah dengan menjawab pertanyaan when, how dan what.
3. Hybrid models, model ini merupakan penggabungan dari model sentralisasi dan desentralisasi. Berupa penggabungan antaranya dengan tetap memberikan batasan kewenangan antara pusat dan daerah. Contoh pembatasan kewenangan tersebut yaitu, pusat diberikan kewenangan untuk membuat kebijakan dan peraturan teknis mengenai pengadaan sedangkan daerah didelegasikan kewenangan mengadaakn pengadaan secara mandiri dengan membuat lembaga khusus pengadaan. Hanya saja tetap tunduk terhadap kebijakan dan peraturan teknis yang telah  ditetapkan oleh lembaga pusat tersebut.
Trennya adalah meskipun banyak negara mengadopsi model hybrid, tapi beberapa diantaranya juga mendekati ke arah sentralisasi. Belum lagi memperhitungkan negara tersebut lebih cenderung ke arah anglo saxon atau kontinental. Di negara anglo saxon, yang terdiri dari banyak negara bagian, biasanya pengadaan diberikan kewenangan kepada negara bagian. Tetapi untuk hal-hal yang bersifat khusus (persenjataan) ditangani oleh unit yang berbeda di bawah menteri pertahanan. Contohnya di Amerika dengan General Service Administration (GSA). Sedangkan di negara yang berbentuk kontinental akan lebih cenderung ke arah hybrid. Contohnya Indonesia yang menggunakan model ini karena antara pembuat kebijakan dengan eksekutor berbeda dibagi antara pusat dan daerah atau K/L/D/I.
ukraviatrans.gov.ua

Perbedaan metode ini salah satunya berkaitan dengan controling. Pemerintah tentu ingin mengefektifkan fungsi pengawasan mengingat pengadaan mengambil alokasi yang sangat besar dalam total anggaran. Sebagai ilustrasi negara yang tergabung dalam OECD sekitar 15% dari toral atau negara amerika latin sekitar 15-18% dari total anggaran digunakan untuk pengadaan barang/ jasa. Fungsi pengawasan atau controling ini juga menjadi syarat untuk menciptakan pengadaan barang/ jasa yang tepat dari segi manfaat sehingga menjadi efektif dan dari segi biaya menjadi terkendali atau efisien. Bagi negara sebesar Indonesia dengan kepulauan yang membentang dari Sabang-Merauke, penggunaan model sentralisasi tentunya akan menimbulkan masalah baru berupa pengawasan, koordinasi dan dari segi waktu akan terlalu banyak terbuang karena jarang yang terlalu jauh dengan komungkinan terjadinya hambatan berupa faktor alam dan iklim. Mungkin bagi negara kecil seperti Singapura misalnya, penggunaan model sentralistik amat dimungkinkan karena negara kecil sehingga span of controlnya lebih pendek.

Selain itu ada beberapa hal yang menarik untuk dibahas seputar model ini. Pertama, berkaitan dengan standarisasi, harmonisasi, sumber daya manusia, knowledge dan litbang. Standarisasi pada model sentralisasi akan mempermudah pejabat pengadaan dalam melakukan tender karena barang/jasa sudah terjabarkan dengan detil spesifikasinya serta digunakan bersamaan sehingga kesalahan teknis dalam pengadaan dapat diminimalkan. Hal ini berkaitan pula dengan sebaran informasi dan pengetahuan antara pejabat pengadaan di satu daerah dengan daerah lainnya, dalam model desentralisasi. Kedua berkaitan dengan harmonisasi. Kebijakan mengenai pegadaan tentunya harus selaras dengan peraturan yang setingkat ataupun dibawahnya. Sehingga proses sinkronisasi mutlak diperlukan sebagai salah satu syarat untuk menciptakan kebijakan yang baik. Keuntungan model sentralisasi yaitu, harmonisasi hanya terjadi di tingkat pusat, sedangkan kebijakan di daerah akan mengikuti. Tetapi model desentralisasi memerlukan harmonisasi di hampir setiap level peraturan untuk memastikan tidak terjadi pertentangan antar peraturan sehingga membingungkan pelaksana teknis di lapangan.

Ketiga yaitu sumber daya manusia, model sentralisasi tidak menuntut terlalu banyak sumber daya manusia yang berkompeten dengan pengadaan barang/jasa karena segala proses pengadaan dihandle oleh lembaga yang berada di tingkat pusat, sedangkan desentralisasi memerlukan banyak ahli pengadaan yang tersebat di setiap daerah dan setiap instansi pemerintah. Tentu pertimbangan luas wilayah dan kapabilitas sumber daya manusia yang dihasilkan melaui kegiatan diklat atau pelatihan patut mendapat perhatian lebih. Jangan sampai terjadi disparitas kemampuan yang menyebabkan pelaksanaan di satu daerah dengan daerah lainya berbeda, walaupun memiliki kasus yang sama. Terakhir yaitu knowledge dan litbang. Kedua hal ini berkaitan dengan sumber informasi yang digunakan pejabat pengadaan dalam melakukan proses lelang atau penunjukan. Jangan sampai terjadi pengadaan menghasilkan barang yang secara kualitas ataupun spesifikasi tidak dapat dipertanggungjawabkan karena panitia pengadaan tidak mendapatkan informasi yang cukup pada saat proses kualifikasi.  
vinnova.se

Walaupun terdapat berbagai kelebihan dan kekurangan dari kedua model antara sentralisasi dan densentralisasi, hybrid model lahir sebagai penggabungan antara keduanya. Namun demikian belum tentu hybrid model merupakan model terbaik yang dapat diterapkan pada setiap negara. Perlu telaah dan kajian lebih dalam mengenai model pengadaan yang sesuai dengan situasi dan kondisi sebuah negara, seperti kondisi geografis, sumber daya manusia, dana, dan sebagainya.
md sumanto-200111

Monday, January 17, 2011

Global Prospek 2011 Versi World Bank (WB)


www.tdic.or.tz
Beberapa hal yang patut menjadi refleksi perjalanan selama tahun 2010 menurut laporan World Bank mengenai prospek 2011 antara lain:
1. Aktivitas ekonomi selama tahun 2010 di hampir sebagian negara berkembang, menunjukkan tren positif atau perbaikan.
2. Kebalikannya, proses pemulihan pasca krisis di banyak negara berpendapatan besar tidak menunjukkan banyak penguatan untuk membuat suatu perubahan yang besar terhadap tingkat pengangguran.
3. Pemulihan di negara berkembang hampir semua menunjukkan perubahan yang menakjubkan yang tercermin dari ekspansi internal market.
4. Kebijakan tingkat bunga yang tinggi, pendapatan yang tinggi dan prospek pertumbuhan yang menjanjikan di negara berkembang, menghasilakan capital inflow yang tinggi terutama kepada negara berpenghasilan menengah
5. Tingkat aliran modal yang besar ke beberapa negara berpenghasilan menengah yang tidak wajar dan berpotensi merusak dan memberi tekanan terhadap mata uang
6. Negara berpendapatan rendah mengalami penurunan capital inflow pada tahun 2009 dan peningkatan yang lumayan pada 2010, merupakan cerminan dari ketergantungan terhadap stabilnya nilai Foreign Direct Invesment (FDI)
7. Pertumbuhan secara global diperkirakan akan melambat pada 2011, sebelum menunjukkan tren perbaikan pada tahun 2012.
8. Pertumbuhan yang kuat dari permintaan domestik di negara berkembang akan terus memimpin pertumbuhan ekonomi dunia

Menarik untuk mengomentari beberapa point tersebut dari kaca mata Indonesia, terkait dengan pidato pemerintah beberapa waktu lalu yang menurut beberapa toko merupakan "kebohongan" karena tidak melihat relaita masyarakat yang sebenarnya. Dengan pendapatan perkapita yang telah menembus $3000, Indonesia berada pada dua kutub antara kutub maju dan kutub bawah. Namun optimistik dari kondusifnya iklim berbisnis sangat baik sehingga hari ini Moody’s Investor Service menaikkan kredit rating Indonesia menjadi Ba1/stable outlook atau satu tingkat sebelum memasuki investment grade. Peningkatan ini merupakan hasil dari evaluasi Moody’s yang pada desember tahun lalu membuka peluang bagi Indonesia untuk naik peringkat setelah dilakukannya evaluasi. Stabilitas dan kondusifnya iklim investasi membuat derasnya arus capital inflow kedalam pasar modal. Namun perlu dicermati bahwa hal itu belum menjadi keuntungan riil bagi masyarakat selama tingkat Foreign Direct Investment (FDI) masih berada pada tingkat yang lemah untuk mendorong terjadinya multiplier terhadap ekonomi secara menyeluruh. Kabar yang menggembirakan Indonesia di awal tahun 2011.

Laporan dari world bank tersebut juga membahas mengenai kondisi di asia timur dan pasifik, termasuk Indonesia. Dikatakan bahwa Indonesia adalah termasuk negara yang terkena dampak krisis terkecil. Hal ini didorong oleh konsumsi rumah tangga yang diuntungkan oleh rendahnya inflasi dan kepercayaan konsumen terhadap sektor ekonomi. Sedangkan sektor swasta didukung oleh optimisme prospek pertumbuhan di masa depan. 

Kembali kepada hasil laporan World Bank (WB), penekanan yang menarik adalah adanya pengakuan dari entitas internasional bahwa salah satu resep Indonesia agar tidak tertular krisis finansial yang telah berlalu atau yang akan datang, salah satunya adalah karena tingginya tingkat konsumsi. Disaat negara lain masih bejibaku untuk menstabilkan ekonomi, tercatat Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,9 tahun 2010, bahkan pada tahun 2009 yang merupakan puncak dari krisis finansial global Indonesia masih tetap membukukan pertumbuhan 4,5 tahun 2009 dan estimasi tahun 2011 adalah sebesar 6,2. Beberapa indikator yang dapat dijadikan tolak ukur antara lain nilai ekspor komulatif dari bulan Januari-November 2010 mencapai US$140,65 miliar atai meningkat 36,34% dibandingkan periode yang sama tahun 2009 (BPS, 2010) dengan nilai ekspor nonmigas meningkat 33,81% menjadi US$115,94 miliar. Selain konclongnya nilai ekspor Indonesia, jumlah kunjungan wisman juga menunjukkan peningkatan dibandingkan periode tahun 2009. Secara komulatif dalam periode Januari-November 2010 mencapai 6,36 juta orang atau naik 11,59% dibanding tahun lalu yang berjumlah 5,7 juta orang.

Sejujurnya antara nilai ekspor dan pariwisata, keduanya merupakan faktor pendorong ekonomi. Namun demikian, efek yang diberikan untuk menstimulus lebih cepat berada pada sektor pariwisata ketimbang ekspor. Mengapa? Karena pariwisata langsung berhadapan dengan end-user yaitu wisatawan dan penyedia jasa wisata serta masyarakat sekitar yang langsugn terkena imbas positif dari menggeliatnya sektor pariwisata. Sedangkan peningkatan ekspor akan mendetingkan dampak yang relatif lebih lambat dibanding sektor pariwisata. Selain dua indikator tersebut, masih banyak indikator lain yang dirilis berbagai pihak (pemerintah ataupun non-pemerintah) yang menyatakan optimisme terhadap prospek di masa depan.

Bad-News
www.tribun.com.pk
Serentetan kabar baik yang diinterpretasikan ternyata didalamnya terdapat pula secuil potensi kemunduran yang secara akumulatif bila terakumulasi dapat membawa kemunduran terhadap kondisi yang sekarang telah ajeg. Dua berita awal tahun yang kurang baik datang dari inflasi yang dikhawatirkan meningkat akibat melonjaknya berbagai komoditas pangan nasional, seperti cabai, beras, bawang, dan bahan pangan lainnya. Sehingga ada isyu bahwa BPS akhirnya mengeluarkan perhitungan kenaikan cabai dari variabel penilaian inflasi karena kuatir terhadap volatil nya harga cabai. Berikutnya adalah kabar bahwa BI akan menaikkan subu bunga acuan BI rate dari sebelumnya yang bertahan pada level 6,5. Berita kedua ini kurang begitu mengejutkan, mengingat fungsi BI sebagai otoritas moneter, pengawas perbankan, dan mengatur dan menjaga kelancaran pembayaran. Respon kenaikan BI rate karena semakin besarnya potensi kenaikan inflasi, sehingga jangan sampai baru awal tahun atau semester awal, inflasi sudah meraung tinggi. Karena tren inflasi tertinggi biasanya terjadi pada semester kedua. Kemungkinan lain yaitu bagaimana mendayagunakan cadangan devisa Indonesia yang per Desember 2010 mencapai US$95 miliar dengan asumsi nilai tukar sebesar Rp. 9300 pada APBN-P.

Kabar kurang mengenakkan lainnya adalah akibat terjadinya pertumbuhan ekonomi yang belum diikuti perbaikan infrastruktur, dapat dilihat bahwa kemacetan terjadi dimana-mana belum lagi kerusakan jalan di daerah dan di kota besar sama saja. Fenomena ini menimbulkan kelesuan tersendiri bagi masyarakat kelas pekerja untuk berprestasi atau menampilkan kinerja pada titik minimum karena telah terlebih dahulu kehilangan stamina di jalan. Belum lagi dampaknya terhadap disstribusi barang atau peti kemas yang tingkat kerugiannya dapat ditaksir menggunakan mata uang. Seakan pemerintah bangga terhadap kenaikan penjualan kendaraan bermotor, tapi disisi lain tidak berbuat terhadap penambahan rasio jalan. Tidak aneh banyak prediksi yang mengatakan bahwa tahun 2015 Jakarta khususnya akan mengalami stagnasi di jalan, terutama pada rush hours...wuedannn..!!!!

www.ceritamu.com
Potensi berikutnya yaitu banyaknya kenaikan harga yang memicu kenaikan harga lainnya cukup mengkhawatirkan karena Indonesia cukup bertumpu pada kuatnya tingkat konsumsi masyarakat. Tidak bisa dibayangkan bila masyarakat kehilangan niat atau daya untuk membeli barang. Bagaimana ekonomi akan berputar? Seharusnya pemerintah juga memperhitungkan ini apabila ingin menaikkan harga BBM, listrik, atau air..dengan GDP yang baru naik kelas ke $3000, kita belum dapat disetarakan dengan bangsa yang maju dengan fondasi ekonomi yang kuat. Nah role play itulah yang sebaikknya dimainkan pemerintah, bukan malah memberatkan masyarakat dengan pengenaan pajak warteg, hanya dengan alasan ingin meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah).

Akhir kata, Indonesia memenuhi segala aspek untuk menjadi negara maju dalam kurun waktu 10 tahun mendatang. Namun demikian perlu persiapan di berbagai pihak dan berbagai sektor agar kita tidak hanya sebentar menjadi negara maju. Fondasi ekonomi perlu dibangun dan dijaga keberlanjutannya serta inovasi dan inisiatif terobosan juga perlu dibuat untuk break-through dalam menghadapi masalah yang dihadapi. Jangan berpikir pragmatis dan terlalu birokratis sehingga menyusahkan diri sendiri dan masyarakat yang tidak tahu apa-apa.

(md sumanto-170111)

Sunday, March 7, 2010

Obama Statue in Menteng, Jakarta


President Obama is the first president in the United States that comes from black people. He had spent some his childhood in Indonesia. A biggest Muslim majority country which is the world's largest archipelago country located in the hemisphere near the equator. President Obama in Indonesia around the year 1967-1971 and had studied at SDN Menteng 01.

President Obama will visit Indonesia in the next 20-22 Maret, a statue has been prepared to welcome. The statue named "Bary's Dream" was the next to reflect the essence of a spirit which should not despair and give up. A bronze statue with gold wrapping it with a pose stand that seemed to give hope to anyone who saw it. The statue was moved from the park menteng to SDN 01 Menteng where President Obama had attended. 

At this time his visit, President Obama will take and the First Lady and her son just to flash back and reportedly will visit Borobudur Temple. Good relations between Indonesia-USA can be a mutually beneficial to stimulate the growth in regional scale.Here some picture related to the statue (from various source).

 
 

Friday, March 5, 2010

First Peformance By John Legend in Java Jazz 2010

The first day in Java Jazz 2010, prominent performance artist is John Legend, known for its song titled "Save Room", and "Ordinary People". With setting the stage mostly in  dark color reflects a romantic and elegant atmosphere. In the middle of the show, John took a woman that climbed onto the stage to dance with. This adds splendor John tonight's performance especially when she sang the song "Ordinary People". The audience sang out loud until it song finished.

Willingness confirmation link John Legend to perform in Java Jazz 2010


I appraise John's overall performance shows that he is like a world-class musician with a brilliant stage appearance. Along all the performances the spectators crowded with applause and appreciation. It should be expected on day-to-2 and 3 are Babyface and The Manhattan Transfer.

At Java Jazz this time, viewers who missed the tickets for sold out can be watched via streaming broadcast broadcast over Video Streaming and Radio Streaming. So my friends who are at home or abroad can watch and enjoy the Java Jazz 2010.


Economics of Love


In our life, a graph can describe many meanings and many interpretations. Teachers often associate a graph with daily life to be easy to understand. There is a strong correlation between love with a graph on the side. Analysis will be used to Perceive Use perspective to Perceive Value and Price. The subject of analysis is normal WOMEN.

In many cases women are choosing a partner who provides more value, for example, 4-wheel car has an excellent brand, which gedget multimedia, etc.. When in fact the price of the partner is not more than the others, as a whole. If seen from the graph of the usual pairing at the point 0, while couples who have a few advantages that the point P (1.0). That's why women say the affective complex creatures (ed: the article will follow).

While from some couples who feel extremely insecure because of the excess surplus of women will experience a massive depression and in the graph at point-b. Usually in this case the woman is a creature of high dominance. But he was not aware that the price (she was) not more than other women ....

Often women 'label' itself is excessive and not in accordance with the prices in 'market'. And now in the market competition is pure market. In many cases, they pending 'until the time was right'Lol, they just leave with unclear reasons bla..bla..bla.. etc. They not like to think that there are many boys who wait in line to just get little attentions. Whereas in this theory is the high price reflect that the women are superb. but the fact?

For this theory suggest that many solutions ranging from quality improvement to determine which market segments would be seized .. but keep in mind that competitors will not stay still see his rival in an attempt to capture the market ... It must be the original life more fun than just writing this ... Think boys ...

Leaders as an Effective Communicator

Maintenance of good relations to the outside and into the communications made through the process, either orally or in writing. Various categories that have taken the decision submitted to the through lines of communication within the organization. In fact the interaction is between superior and subordinate, between the leadership officials, between officials and the leadership of the executive officers among the operational activities made possible thanks to a matching occurs with effective communication. It's the same with out the relations.

It is undeniable that one of the functions that are essential leadership is effective communication. Thus the importance of effective communication in improving one's ability to lead so that it can be said that mastering the techniques of good communication is a conditio sine qua non for any official leadership.

In fact there are opinions that say the emergence of discord, disagreement and even conflict, mainly due to the lack of effective communication between the parties related to each other. And the time used by the person most-about 70% is used to communicate.

Essentially meant to communicate a message transfer from one party to the party or other parties. A communication process can be said to take place effectively if the message was the source of the message is received or interpreted by the target communication-message-receiver in the form, soul, and spirit are exactly the same as the desired and intended by the source of the message.

Communication model can be described as follows:

Women and Men Altruism

What is altruism?
Altruism focuses on a motivation to help others or a want to do good without reward, while duty focuses on a moral obligation towards a specific individual... Pure altruism is giving without regard to reward or the benefits of recognition and need (source: http://en.wikipedia.org/wiki/Altruism).

Many women act based on emotional-thinking, where men use rational-logic-thinking. Actually this difference make unique collaboration both women and men, but sometimes also become source of problems. A couple gets divorced or break because one or two of them can’t understand each other. Women use to much emotions, while men use to much logic. Many expert suggest that couple should find equilibrium between rationality and emotional, so that they can solve daily problems.

Why altruism is so important to strengthen relationship?
Because the base of altruism is preferred to give something than accept, serve than being served. A form just like empathy or strong sympathy that makes people around is happy. This is the reason why people like Gandhi so much loved by the Indians, why lots of young man proud to Mandela. All of this happens because they have strong altruism that reflected in their life.

But the world is changed, women with tertiary educations who choose as a partner men who have not finished high school are 10 times more likely to separate or get divorced said Patricia Karvelas. What we face in society is not the same with theory that we read in books. Cause culture is not always formed by society, but educational background, friend, neighborhood, etc. They blended all of the juice in their head, without filter it again.


Template by : kendhin x-template.blogspot.com