Rasanya sudah lama saya tidak menulis mengenai dunia ekonomi, khususnya investasi. Secara sekarang ada mainan baru gitu. Tulisan ini dibuat untuk kepentingan pribadi, agar saya tidak ikut terjebak dalam kesalahan investasi serta berakibat pada kehilangan sejumlah portofolio berharga. Beberapa kesalahan umum yang banyak dilakukan para investor ritel antara lain:
1. Overlooking Fundamentals

2. Cheap, Yet Expensive
Investor ritel yang sukses adalah yang menyasar saham-saham yang ‘murah’, dalam artian harga yang ditawarkan masih dibawah performa riil perusahaan dan prediksi pertumbuhan. Kebanyakan invesor ritel pemula malakukan salah interpretasi dengan mengartikan hal ini sebagai strategi untuk membeli saham murah dengan mengabaikan persentasi pertumbuhan yang tinggi.
3. Myopic Vision
Investor ritel sering kali hanya melihat gain pada jangka pendek dengan melihat berapa selisih harga beli dengan harga jual. Jika para investor ingin melakukan short selling, maka senjata yang harus dimiliki adalah kemampuan untuk melihat faktor bulish dan faktor bearish yang blended. Hal ini menjadi sulit dengan didukung oleh situasi ekonomi yang terlalu turbulen serta miskinnya sentimen geopolitik.
4. Ignoring a Portfolio

5. 5. Unwillingness to Book Losses
Sebuah fakta yang banyak terjadi pada investor skala ritel adalah semangat dalam mengumpulkan cuan yang kecil, tetapi tidak bisa menerima bila terjadi penurunan dengan selalu berharap terjadi riversal terhadap pergerakan yang disebabkan sentimen positif yang boosting. Ada baiknya apabila setiap investor ritel menetapkan batas bawah (book losses) semisal sebesar 10% dari penurunan. Keuntungan ditetapkannya
6. Entry at Peaks, Exits at Lows
Pemikiran seperti ini lah yang banyak membuat investor ritel merugi dan kehilangan aset dalam jumlah yang huge. Mereka masuk pada saat harga saham atau curve sedang berada pada puncak peak-nya karena berharap setiap hari akan menembus level resistence baru terdorong sentimen positif. Hal ini diperparah ulah MI dan broker yang 'mengkompori' investor untuk terus melakukan pembelian padahal kondisi pasar pada saat itu sudah overprice dan overvolume. Kebalikannya adalah ketika kondisi pasar sedang bearish atau decline, memicu rush di pasar saham. Kondisi terlihat dengan banyaknya investor ritel yang keluar pasar karena termakan isyu yang menyesatkan. Padahal seharusnya pada saat decline adalah saat yang strategis untuk membeli saham karena harga yang sedang murah. Tentunya dengan memperhatikan pula proyeksi ke depan.
7. Following Tips

8. Allowing your Broker to Trade
Buntut dari kurangnya informasi terhadap pasar saham dan target yang ingin diachieve oleh setiap investor adalah terlalu berperannya broker dalam menentukan arah investasi seorang investor ritel. Mereka hanya meng-iyakan bila broker memberikan masukan dan menawarkan jual-beli tanpa memperhitungkan lagi apa untung-ruginya. Dari sisi broker, dengan melakukan banyak aksi jual beli tentunya akan semakin banyak menambah broker-fee yang didapat. Tetapi dari sisi investor ritel, sangat merugikan karena cuan yang didapat dalam jangka waktu singkat relatif lebih kecil dan riskan.
Sumber: Money Today, April 2011 (dengan perubahan)